Lagi-lagi kelompok Separatis Teroris OPM berbuat ulah seperti dikutip Sindonews (4/12/2018) Kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya mengepung rapat Pos TNI di wilayah Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Sebanyak 40 orang dengan senjata campuran busur dan senjata api harus berhadapan 28 Prajurit dari Yonif 755/Yalet Divisi 3 Kostrad.
Menurut Wakapendam XVII/Cenderawasih Letkol Dax Sianturi “memang benar ada pengepungan pos TNI di Nduga, namun kondisi disana masih aman terkendali . Anggota TNI masih bisa menguasai keadaan menghadapi para OPM”

Sumber : militer meter
Namun Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh karena ke 28 Prajurit TNI AD tersebut sedang terancam nyawanya, para personil OPM lebih memiliki keuntungan karena lebih mengenal wilayah hutan di Nduga. Biasanya dalam pengepungan ini pihak yang terkepung akan kekurangan pasokan logistik (makanan dan air bersih) dan peluru. Jika sudah begini keadaannya pilihan tinggal dua menyerang habis-habisan atau menyerah terhadap kepungan OPM.
TNI pun juga pantang menganggap remeh kemampuan tempur pasukan OPM pasalnya selain memiliki kemampuan perang hutan yang tidak kalah tangguh dari TNI, OPM juga memiliki senjata canggih hasil rampasan dari personil TNI/Polri yang tewas ataupun terluka. Tercatat anggota OPM pernah terlihat menggunakan senjata SS1, SS2, M16 hingga Steyr AUG.

Sumber : tribun
Sudah lama kita menunggu aksi tegas dari TNI untuk memberantas OPM, pengepungan ini sudah menurunkan wibawa Pemerintah. Sudah waktunya alutsista yang dibeli oleh uang rakyat digunakan sesuai fungsinya yaitu menghancurkan musuh baik yang berasal dari luar maupun dari dalam