Media Kompas pada Minggu (19/8) melaporkan bahwa dua prajurit TNI gugur akibat diserang KKSB TPNPB/OPM. Serangan ini adalah yang kesekian kalinya dari OPM. Namun Pangdam 17 Cendrawasih Mayjen TNI George E Supit menyatakan bahwa pihaknya tetap mengedepankan upaya persuasif untuk mengajak anggota OPM kembali kepada ibu pertiwi.
Cara persuasif memang akan memakan waktu yang lama, namun bukannya tanpa hasil. Tahun 2017 saja sudah lebih dari 154 anggota separatis Papua kembali ke NKRI. Apalagi adanya pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang semakin masif di Papua. Itu membantu para separatis kembali ke Indonesia.


Noam Chomsky. Sumber : nytimes.com
Namun Gerakan Papua Merdeka akan tetap ada meskipun perlawanan mereka tidak akan membuahkan hasil. Pasalnya ada campur tangan asing dibalik OPM.
Dilansir dari tirto.id (22/11/2017), Profesor Noam Chomsky dari MIT, pada awal Desember 2013 menyatakan bahwa AS dan Australia telah melakukan skandal besar di Papua. Chomsky meminta AS dan Australia harus bertanggungjawab atas kekacauan yang terjadi di Papua.


Ilustrasi. Sumber : okemiliter.blogspot.com
Menurut Chomsky, AS dan Australia sama-sama memiliki kepentingan di Papua. AS melalui PT Freeport, sedangkan Australia memiliki sejumlah perusahaan penebangan kayu di Papua Nugini. Chomsky menilai Australia juga mengincar kayu di hutan-hutan Papua. Di Australia pula pada 25 Juni 2014, kelompok pendukung OPM membuka kantor perwakilan di Melbourne.
Selain AS dan Australia, ada Inggris yang punya perusahaan minyak dan gas bumi British Petroleum (BP) di Tangguh, Papua Barat. Bukan kebetulan bila Inggris banyak memberi fasilitas bagi OPM. Diantaranya mendukung Benny Wenda yang ingin menjadi presiden Papua Barat, membuka suaka politik dan kantor perwakilan OPM yang diresmikan April 2013.


Benny Wenda. Sumber : lintasatjeh.com
Belum lagi negara seperti Vanuatu di Pasifik Selatan yang rajin mendukung kemerdekaan Papua secara terang-terangan. Vanuatu secara konsisten mendukung masuknya Papua ke dalam organisasi MSG (Melanesian Spearhead Group).
Tentu perlawanan OPM tidak akan awet apabila tidak ada dukungan dari pihak-pihak asing.
Oleh karena Indonesia harus bersinggungan dengan pihak-pihak asing itulah maka pemerintah harus berhati-hati.
Saat ini langkah persuasif memang jadi cara yang paling aman. Namun bila tindakan OPM sudah semakin meresahkan, militer juga perlu mengambil tindakan-tindakan yang lebih tegas.

sumber : https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1638260053335934?channel_id=103&host=https:%2F%2Fidstory.ucnews.ucweb.com&list_article_from=&item_type=201&content_type=0&cluster=iflow_server_indonesian&no_title=0&media_type=1&app=browser_iflow&uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvpfmtch&ver=12.9.9.1155&sver=inapppatch2&demote_type=normal&adapter=&grab_time=2018-12-06_09.48.29&lang=indonesian&comment_stat=1&comment_type=0&reco_id=be564261-75d9-4b32-a416-06740b8f6fac&ucnews_rt=kHighQuality&entry=browser&entry1=shareback&entry2=widget_More&shareid=bTkwBAOfIMWeY9lPmXrBpW%2FSjmbyX7DF3IphIjBah0%2BGrg%3D%3D&item_id=1638260053335934&platform=More&ws_short=7OjpCfHBlYCd